Adricky's Blog

Pandangan seorang awam tentang Dunia Apotik

Operations Management diterapkan di Apotik Modern

with 2 comments

“Ke apotik ?”, “Mau beli obat ?”, “Siapa yang sakit ?”

Mmm… Not really…

Perkembangan apotik sekarang rasanya semakin menjauh dari image ‘mau beli obat’, dan semakin mendekat kepada image ‘mau belanja dan beli obat’… Toserba atau swalayan yang menyediakan obat-obatan, mungkin istilah ini lebih tepat…

Artinya tujuan utama konsumen ke apotik yang biasanya untuk membeli obat, sekarang bisa dibarengi dengan tujuan membeli kebutuhan sehari-hari seperti sabun dan deterjen, bahkan di banyak apotik, konsumen juga dimanja dengan tersedianya ‘aksesoris’ dan ‘makanan ringan’…

Tersedianya barang-barang selain obat dan alkes di apotik, menyebabkan sistem persediaan di apotik pun mengalami penambahan jumlah item yang cukup signifikan. Seringkali ini menimbulkan kesulitan tersendiri bagi pengelola apotik untuk menjaga arus keluar masuknya barang dan obat.

Biasanya, sistem klasifikasi barang di apotik tradisional meliputi :

  1. OTC (Over The Counter), atau obat-obatan yang boleh ‘dipajang’ karena dapat dibeli tanpa menggunakan resep
  2. Ethical, atau obat-obatan yang tersembunyi di ruang dalam atau ruang racik, karena harus dibeli dengan menggunakan resep.
  3. Alkes (alat kesehatan), yang termasuk didalamnya jarum suntik, pipet, perban, dan lain-lain

Namun, klasifikasi ini kemudian bertambah banyak di apotik modern dengan barang-barang seperti :

  1. Makanan ringan, seperti permen, biskuit…
  2. Personal care, seperti sabun, shampoo, body lotion…
  3. Baby care, seperti popok bayi, bedak bayi, botol susu, dot, makanan bayi…
  4. Peralatan kecantikan, seperti sisir, gunting kuku, nail polish…
  5. dll…

Jika demikian perkembangan di apotik modern, apa yang harus dicermati oleh pemilik apotik modern atau orang-orang yang tertarik untuk mengembangkan apotik modern atau bahkan yang ingin mengubah wajah apotik tradisionalnya menjadi apotik modern ?

Mari kita ‘tengok’ apa yang terjadi pasar swalayan atau mini-market :

  • Sistem persediaan yang terintegrasi antar cabang, sehingga memiliki sistem pengadaan yang terpusat. Semakin banyak jumlah barang yang dibeli, maka semakin banyak diskon yang diberikan oleh supplier, sehingga harga dapat ditekan lebih murah dibanding pesaing.
  • Sistem informasi diterapkan secara menyeluruh, sehingga informasi seperti barang-barang ‘fast moving’, jumlah penjualan setiap item barang per periode, dan trend barang-barang yang diminati dapat dianalisa dan dijadikan tolok ukur untuk menerapkan kebijakan penjualan maupun persediaan barang. Barang ‘slow moving’ memiliki persediaan yang minimal, barang yang tidak laku dikembalikan ke pusat untuk kemudian dioper ke mini-market lain atau dikembalikan ke supplier, sehingga sistem persediaan menjadi sangat efisien.
  • Marketing program diterapkan, seperti adanya program member, dimana konsumen yang menjadi member akan diberikan kartu member dan memperoleh harga khusus atau diskon jika berbelanja menggunakan kartu member. Selain itu, program diskon atau harga khusus juga diberlakukan untuk non member pada barang-barang tertentu dan di periode tertentu untuk merangsang peningkatan penjualan.
  • Sewa space strategis yang ditawarkan kepada supplier untuk menambah pemasukan diluar penjualan bagi mini-market. Artinya, ada lokasi-lokasi strategis dalam mini-market yang ditawarkan kepada supplier dari produk tertentu untuk meningkatkan penjualan produk tersebut. Pemasangan brosur, penempatan brosur, atau dummy product juga termasuk dalam kategori ini.

Dengan beberapa hal diatas, maka mini-market mampu merebut sebagian pasar toko kelontong bahkan pasar tradisional. Apotik pun ikut terkena imbas, terutama untuk penjualan obat OTC, karena beberapa jenis obat OTC juga tersedia di mini-market.

Tapi jangan khawatir, meskipun kompetisi semakin berat dihadapi, namun jika pengelola apotik dapat mempelajari dan bahkan mengadopsi sistem yang diterapkan oleh mini-market atau sistem retail lainnya, maka tentunya daya saing apotiknya akan semakin meningkat.

Saya berharap, dengan adanya blog ini, kita dapat saling bertukar informasi dan tips trik seputar cara membuat apotik anda atau ‘calon’ apotik anda memiliki daya saing tinggi dan mampu bertahan menghadapi perkembangan jaman.

Ikuti saya di twitter : adricky, atau chat di ym : adricky

Untuk mengirim komentar melalui email, dapat ditujukan ke adricky@gmail.com

Topik bahasan mendatang :

  • Bagaimana mengatasi masalah stok amburadul ?
  • Bagaimana cara mengatur layout apotik yang optimal ?
  • Kok pesaing kita bisa lebih murah ya ?
  • Buka cabang ?! Satu apotik aja susah dikelola…
  • Program apotik ready-made atau made-to-order ?
  • Efektivitas penggunaan Barcode Reader dalam bertransaksi…
  • Retur penjualan dan kerumitan yang ditimbulkan… 😦
Iklan

Written by adricky

Juni 23, 2009 pada 6:11 am

2 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. kayak ritel biasa ya?
    stok = komputer dan stock opname
    layout = planogram
    kompetitor = margin, supplier dan pricing
    buka cabang = analisa benefit cost
    ready made – made to order = ready made dgn historis data
    barcode = oke
    retur = term perjanjian

    gimana?salah?

    romailprincipe

    Juni 23, 2009 at 6:25 am

    • Thanks pak untuk insightnya…

      stok = komputer dan stock opname
      layout = planogram
      kompetitor = margin, supplier dan pricing
      buka cabang = analisa benefit cost
      ready made – made to order = ready made dgn historis data
      barcode = oke
      retur = term perjanjian

      gimana?salah?

      Bener pak…
      Wah, ga jadi bahas d kalo uda dibocorin gini… :-p

      Tapi sekedar bocoran pak, di banyak area, contohnya aja untuk mengatasi kompetisi dengan memilih supplier yang murah, ada juga hal yang perlu dicermati. Apotik punya aturan dan pembatasan yang diatur sama POM plus sering dapet ‘sidak’ (inspeksi mendadak) pula, sehingga tidak jarang pengelola kemudian takut untuk melangkah misalnya dengan membeli barang diluar supplier atau PBF ‘besar’… akibatnya boro-boro bisa bersaing, karena dari supplier ‘besar’ biasanya kebijakan diskon kan merata untuk setiap apotik.

      Pricing juga bisa jadi kendala pak, karena harga yang terlalu rendah bermasalah, ketinggian apalagi. Kalau terlalu rendah, resikonya dicurigai pak. Mau kerjasama dengan rumah sakit saja kita sudah diberi patokan harga, kalau penawaran kita dibawah patokan harga mereka, malah ditolak. (Aneh tapi nyata… 😛 ) Kalau ketinggian, di kemasan setiap obat ada HET (Harga Eceran Tertinggi), jadi bakal kena sama POM juga…

      Wah, seru pak kalau mau dibahas satu-satu, jadi saya sih masih ingin share pak tentang seluk beluk dunia apotik dan apa yang kira-kira bisa dilakukan untuk menyiasatinya…

      Ditunggu komentar selanjutnya ya pak, thanks dah mampir…

      adricky

      Juni 23, 2009 at 7:08 am


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: